Memperdalam Nilai-Nilai Agama, Etika, dan Budaya Hindu Melalui Pesraman Kilat

 01 Juli 2025    Dibaca: 101 Pengunjung

Pesraman Kilat

SMA Negeri 7 Denpasar menyelenggarakan Pesraman Kilat pada 10–11 Juni 2025 yang diikuti oleh seluruh siswa kelas X. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan karakter siswa melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap nilai-nilai agama Hindu, etika, dan budaya Bali.

Pada Selasa, 10 Juni 2025 kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Sekolah. Setelah itu, para siswa akan mengikuti kegiatan Pesraman Kilat yang dilaksanakan di ruang Widya Saba Madya. Adapun rangkaian acara pada ruangan ini meliputi, pembukaan oleh MC, menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, doa bersama, laporan ketua panitia, sambutan kepala SMA Negeri 7 Denpasar, dan acara inti yaitu Dharma Wacana. Pada tahun ini, membahas mengenai Rangkaian Hari Raya Nyepi, dengan fokus khusus pada upacara Pengerupukan yang dibawakan oleh Bapak Drs. I Nyoman Kiriana, S.Ag., M.A. Dalam materi yang disampaikan, dijelaskan bahwa Pengerupukan merupakan bagian dari rangkaian Nyepi yang bertujuan menyucikan lingkungan dari pengaruh negatif dan mengusir bhutakala. Upacara ini identik dengan pawai ogoh-ogoh, bunyi-bunyian yang ramai, serta pembakaran sebagai simbol pemusnahan sifat buruk. Sesi ini berlangsung interaktif. Salah satu siswa, Swari dari kelas X-4, mengajukan pertanyaan menarik Apakah tradisi Mabubu itu sama dengan Pengerupukan?” Narasumber pun menjelaskan bahwa Mabubu adalah bentuk lokal dari Pengerupukan yang ditemukan di beberapa desa di Bali, seperti di Karangasem dan Buleleng. Perbedaannya terletak pada media dan prosesi, Mabubu menggunakan bubu (perangkap ikan dari anyaman bambu) yang dibakar, bukan ogoh-ogoh, namun esensinya sama sebagai simbol pembersihan dan pelepasan unsur negatif.

 

Kegiatan dilanjutkan pada Rabu, 11 Juni 2025, yang diawali dengan praktik Yoga Asanas. Selain sebagai aktivitas fisik ringan, yoga juga menjadi sarana melatih konsentrasi, pernapasan, dan keseimbangan batin siswa. Kegiatan ini diikuti dengan antusias dan menciptakan suasana tenang sebelum melanjutkan ke agenda berikutnya. Selanjutnya, para siswa mengikuti kegiatan membuat Banten Ayaban Tumpeng 5 yang dilombakan secara berkelompok. Para siswa merangkai banten lengkap dengan unsur-unsur simbolik sesuai dengan ajaran Hindu, mulai dari tumpeng, lauk-pauk, hingga hiasan janur. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan dan kerjasama, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap tradisi dan makna di baliknya. Setelah membuat banten tersebut, para juri akan menilai hasil dari kinerja masing-masing kelompok. Dari seluruh peserta, tiga kelompok terbaik diumumkan sebagai pemenang, yaitu:

  • Juara 1: Kelas X-11, Kelompok 1
  • Juara 2: Kelas X-8, Kelompok A
  • Juara 3: Kelas X-5

Melalui rangkaian kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh pemahaman baru mengenai ajaran agama dan budaya, tetapi juga merasakan langsung pengalaman spiritual yang menyentuh. Interaksi aktif, kreativitas, serta semangat kebersamaan menjadikan Pesraman Kilat tahun ini penuh makna dan kesan mendalam. Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa spiritual yang kuat, beretika, dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya leluhur.

TAGS :